Home > buku > The Da Vinci Code

The Da Vinci Code

Pada tahun 2003 Dan Brown merilis sebuah novel berjudul The Da Vinci Code yang menggemparkan. Menggemparkan karena secara provokatif menyinggung umat Katolik hingga ke Vatikan. Saya tak ingin menyinggung siapapun dengan menulis tentang buku ini, bukan soal agama atau pertentangan agama yang saya pikirkan. Lagipula hanya sedikit rekan-rekan blogger mengulas buku ini dari hasil pencarian yang hanya sekilas di Google.

Poster filem The Da Vinci Code

Kehebohan lainnya adalah kisah dalam novel ini diangkat ke sinema layar putih dengan judul yang sama yang kini diikuti dengan pemboikotan pemutaran film tersebut di beberapa negara. Jika anda tertarik menonton film The Da Vinci Code sebaiknya novel tersebut dibaca terlebih dahulu. Film tersebut disutradai oleh Ron Howard dan diperankan oleh aktor ternama seperti Tom Hanks dan Jean Reno.

Apa yang saya sukai dari novel ini adalah eksplorasi sains, seni dan arsitekturnya. Robert Langdon, seorang pakar ilmu simbol atau simbologi dihadapkan pada misteri korban pembunuhan seorang kurator di museum Louvre, Jacques Saunière mati dengan meninggalkan pesan-pesan tersembunyi, termasuk memosisikan dirinya di lantai ala Vitruvian Man, salah satu gambar karya Leonardo Da Vinci.

Dengan setting waktu yang pendek Dan Brown mengajak pembaca mengeksplorasi karya-karya sains, seni dan arsitektur di Prancis dan London. Semua petunjuk tentang pembunuhan tersebut berkaitan dengan apa yang ada di balik sebuah karya seni. Di sinilah kekuatan buku tersebut, setiap karya seni yang terkait Dan Brown mengajak pembacanya memahami kisah di balik karya tersebut, kejeniusan pembuatnya, pesan yang dibawa, teka-teki bahkan sains yang terkandung di dalamnya seperti kriptografi. Dan yang menggemparkan adalah keterkaitannya dengan Kitab Kristen dan posisi Yesus yang dianggap sebagai hujatan kepada keimanan agama Kristen Katolik.

Yang paling menyenangkan bagi pecinta seni adalah deskripsi komplek museum Louvre dari perspektif mata manusia sebagai pengunjung. Dalam kuliah Struktur atau Arsitektur Kontemporer dulu saya tidak banyak memahami apa yang diterangkan sang dosen di kelas atau studio, rasanya tidak ada dosen lulusan universitas di Prancis, yang ada hanya penggemar teknologi mobil Citroen saja, juga tidak ada slide presentasi kunjungan sang dosen ke museum yang cukup fenomenal tersebut dengan dibangunnya La Pyramide yang sangat kontras di era pemerintahan Francois Mitterand.

Jika dibandingkan dengan kuliah Arsitektur Vernakular saya cukup mendapat pemahaman dari mereka, tentang apa yang ada di balik arsitektur Rumah Gadang, tentang Soko Guru rumah Joglo, tentang pembagian petak-petak denah rumah di Bali dan sebagainya, mereka adalah pakar-pakarnya. Di buku inilah saya baru mendapatkan pemahaman yang tak saya dapatkan sewaktu kuliah dulu. Suatu karya monumental tak pernah lepas dari simbol kekuasaan dan ideologi, salah satunya adalah agama, hal ini yang kurang disampaikan oleh para pengajar kuliah saya dulu. Memahami arsitektur bukan sekadar mengerti keahlian membangun, namun yang lebih penting adalah memahami manusianya, kebutuhan, keinginan serta ideologinya. “I really don’t understand how this thing works, but I understand the reason this thing works.” Kira-kira seperti itulah makna dalam dialog Counselor dengan Neo dalam film The Matrix.

Kejeniusan Leonardo Da Vinci disuguhkan Dan Brown dengan lebih mudah. Jika saya hanya menatap lukisan Mona Lisa maka saya tak melihat apa-apa selain sebuah karya seni. Dan Brown mengeksplorasi kenapa lukisan itu dibuat, kenapa gaya lukisannya suram, hingga penjelasan latar belakang gambar yang menimbulkan perspektif yang berbeda. Ilmu kriptografi juga disodorkan dalam pencarian misteri pembunuhan tersebut. Enkripsi bangsa Romawi, penyandian aksara Ibrani, deret hitung Fibonacci, anagram dan simbol-simbol melengkapi eksplorasi sains yang berkaitan dengan teka-teki yang disampaikan kurator museum Louvre tersebut kepada Robert Langdon.

Kegemparan yang disodorkan Brown adalah guncangan terhadap posisi Yesus dan Maria Magdalena serta sejarah Bibel sebagai produk manusia yang menyisihkan dokumen-dokumen serta ayat-ayat yang menggambarkan hal-hal duniawi Yesus dan konsep Holy Grail, yang lebih sering kita kenal dalam bentuk metafora sebagai cawan keabadian. Sebagai kilas balik sejarah dalam kurun dua milenium Brown memaparkan ideologi Constantine The Great dalam menghancurkan kaum pagan atau kafir dari pandangan gereja yang selama beberapa ratus kemudian diikuti dengan Perang Salib, Inkuisisi hingga pembunuhan para Knights Templar yang dianggap kaum pagan yang menyusup ke dalam sistem gereja.

Benar atau tidak elaborasi yang dilakukan Dan Brown bukan hal yang penting bagi saya, itu menyangkut keimanan masing-masing pembaca. Yang pasti saya menikmati paparan perjalanan sejarah, sains, seni dan arsitektur dalam sebuah fiksi thriller yang memesona. Dan sebagaimana disebut juga dalam novel tersebut, “Setiap orang suka dengan konspirasi.”

US 1st edition cover
Author Dan Brown
Country United States
Language English
Genre(s) Religion, Thriller, Crime, Fiction, Mystery novel
Publisher Doubleday (U.S.) & Bantam (UK)
Publication date 18 March 2003 (U.S.) & 1 July 2003 (UK)
Media type Print (Hardback & Paperback) also Audio book
Pages 454 p. (US hardback edition) & 359 p. (UK hardback edition)
ISBN ISBN 0-385-50420-9 (US hardback edition), ISBN 0-593-05244-7 (UK hardback edition) & ISBN 1-4000-7917-9 (US paperback edition)
Preceded by Angels and Demons
Followed by The Solomon Ke
Categories: buku
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: